RSS

9 November 2009-'Terima Kasih Semuanya :)'

Senin Pagi, 9 November 2009

life's like a jack-in-the-box, we dont know what will happen tomorrow.-by Arwin Taruna Rizqurrahman

Rutinitas hari sekolah kembali dimulai setelah libur akhir pekan selama dua hari. Seperti biasanya pagi itu aku mengenakan seragam putih abu, berpamitan kepada orang tua, dan pergi ke sekolah dengan mengendarai motor. Semuanya berjalan seperti biasanya alias normal. Tak terlintas sama sekali dalam benakku bahwa hari itu akan menjadi ujian dan cobaan untukku dalam menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya..

06.05 WIB, Perempatan Jl. Bengawan-Jl. Anggrek

Saat itu jalanan masih cukup sepi dan motorku melesat dengan kecepatan cukup tinggi saat melewati Jl. Bengawan. Meskipun begitu, aku selalu mewaspadai setiap perempatan yang ada di jalan itu, terutama perempatan Bengawan-Anggrek yang memang rawan kecelakaan. Tapi pagi itu justru aku yang menjadi korban kecelakaan di perempatan itu. Aku sendiri tak menyadarinya sampai disadarkan oleh orang-orang yang telah berkerumun di sekitarku. Begitu mataku terbuka, aku sedang terbaring lemas di atas aspal dan sekelilingku sudah ramai. Kulihat ada orang yang berusaha memberiku minum, ada yang berusaha menghubungi rumahku, temanku yang berusaha menyadarkanku, orang lain yang terbaring tak sadarkan diri, motorku yang terseok di atas aspal, dan orang-orang yang menggotongku ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Saat digotong, aku sempat melihat mulutku yang penuh darah dari pantulan kaca mobil. Aku semakin syok saat mengetahui gigiku lepas dan patah. Hanya satu hal yang aku pikirkan saat itu: Sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana bisa sampai terjadi? Lemas. Aku hanya bisa berteriak tanpa bisa berbuat apapun.

RS Santo Yusuf

Aku segera dilarikan ke UGD RS Santo Yusuf. Aku masih tidak mengerti kejadiannya dan terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu, Yogi dan Ikhsan datang menyusul ke RS. Sepertinya mereka ada di tempat waktu aku kecelakaan. Kemudian disusul polisi yang datang dan menjelaskan bahwa aku sebetulnya menabrak mobil yang mengerem mendadak karena ada motor lain yang oleng dan jatuh di depan mobil itu. Orang itu sendiri terpelanting dan pingsan dan dia ada di sebelahku. Aku mulai menerima memang inilah cobaan yang harus aku hadapi saat itu. Beberapa saat kemudian ibu dan bapakku datang. Aku hanya bisa meminta maaf sambil menahan tangis karena untuk kesekian kalinya membuat repot mereka. Lalu datang Pak Ade, Pak Pudjo, dan Bu Nurlela yang mewakili sekolah. Kabar bahwa aku mengalami kecelakaan sudah menyebar di sekolah.

Di sana, aku di-rontgen, di-CT Scan, dan difoto gigi untuk melihat separah apa kerusakan yang terjadi di dalam mulut. Bagian foto gigi ini yang membuatku merinding, karena harus melihat sendiri dari dekat mulutku yang penuh darah dan gigi yang berantakan. Aku sempat bertemu dengan sopir yang mobilnya kutabrak. Sekali lagi aku hanya bisa meminta maaf karena membuat sopir itu terlibat dalam masalah. Sekitar jam 11 siang, aku dipindahkan ke RS Borromeus karena pertimbangan dari orang tua. Lukaku baru diberi betadine dan mulutku disumpal dengan tisu untuk menahan darah yang keluar dari mulutku saat dipindahkan dengan ambulans. Saat itu aku belum tahu separah apa luka yang aku alami. Tapi kata ibuku, dagu, gusi, dan bibirku robek dan banyak mengeluarkan darah.

RS Borromeus

Tiba di Borromeus, aku langsung dibawa ke bagian UGD ditemani oleh ibuku. Kemudian tanteku datang dan langsung menangis melihatku terbaring di atas ranjang. Sekitar jam 14.15 sore, aku dibawa ke unit bedah mulut untuk dioperasi. Baru sekitar 1,5 jam kemudian operasinya selesai. Hasil dari operasi itu adalah bibir, gusi, dan daguku dijahit, gigiku dipasang kawat penahan, dan aku kehilangan 3 gigiku. Kata dokter, butuh kira-kira 2 bulan sampai gigi kembali ke keadaan 'semula'. Sementara itu, kakiku memar dan bengkak dan tanganku digips karena retak dan sendinya bergeser. Belakangan aku tahu bahwa luka di mulutku itu akibat benturan dengan stang motor bagian kiri.

Sekitar jam 17.00, aku dibawa ke ruang rawat inap Yosef 3 Suryakencana Kamar 1314 dalam keadaan belum makan dan minum dari pagi. Ditambah lagi dengan baju seragam yang terkena noda darah yang belum diganti juga dari pagi. Selama 5 hari aku menghabiskan waktuku di kamar itu untuk memulihkan kondisi tubuhku. Selama waktu itu juga aku mendapatkan sesuatu yang berharga di balik cobaan yang aku hadapi saat ini.

Di Balik Cobaan

Memang gigiku rontok 3 buah di bagian depan, patah, dan juga goyang. Kakiku sulit digerakkan karena memar dan bengkak. Tangan kiriku juga retak dan sendinya bergeser. Tapi, di balik itu semua aku bersyukur karena masih diberi umur dan kehidupan untuk kurenungi. Di saat tidak berdaya itu baru terasa bagaimana nikmatnya mengunyah makanan dengan gigi, enaknya pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman, pentingnya tangan kiri yang menjadi partner sari tangan kanan, dan masih banyak lagi nikmat yang kita anggap sepele dan lupa untuk disyukuri.

Satu hal lagi yang aku rasakan saat di rumah sakit adalah aku bisa berpikir positif tentang keadaan lingkungan sekitarku. Di saat sakit seperti ini, aku merasakan banyak uluran tangan yang memberiku dukungan, bantuan, motivasi, dan doa untuk segera sembuh. Aku bisa lebih banyak melihat senyum dan tawa mereka, termasuk pasien di sebelahku yang menjadi teman sekamar di rumah sakit. Seperti yang Dikky bilang waktu menjengukku. "Kalau sekarang baru kerasa temen maneh teh sebenernya baik". Aku telah membuat repot semuanya dengan kejadian ini. Tapi aku yakin dengan doa, dukungan, dan kemauan dari diri sendiri, aku yakin bahwa aku bisa sembuh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Pada saatnya nanti, giliran aku yang harus mengulurkan tanganku untuk membalas semua kebaikan ini.

Aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku kepada Allah SWT yang memberiku kesempatan untuk hidup, kepada orang tuaku yang dengan tulus dan sabar merawatku selama sakit, para suster yang siap siaga selama 24 jam, dr. Alice Wenas yang sudah membedah mulutku jadi lebih baik, dr. Arthur, kepada keluarga besarku (terima kasih untuk Uu Enggis yang tiap hari datang menjenguk dan membawa makanan), orang-orang yang menolongku saat kecelakaan (terutama Gogon-Satya Reza), terima kasih juga untuk Pak Ade, Pak Pudjo, dan Bu Nurlela yang datang mewakili sekolah, anak-anak kelas XII IPA 4 (makasih buat Bilal yang udah bikin aku ketawa dengan jokes kamu dan Widi dan Tria yang sengaja datang buat mengantar satu tas komik), teman-teman semua yang datang menjenguk dan atau memberikan dukungan (makasih banget untuk Yuki dan kawan-kawan semuanya yang sudah membuat gambar untukku saat di rumah sakit, meskipun masih belum kenal dekat), dan kepada semua pihak yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu namanya.

Terakhir, aku ingin menyampaikan terima kasihku untuk 'dia' yang bikin aku harus strong dan jangan mau kalah dengan luka yang aku alami.

Gigiku memang lepas 3 buah, patah, dan berantakan. Tapi aku sudah merelakannya sebab gigi-gigi yang lepas, patah, dan berantakan itu sudah ditambal dengan pelajaran dan hikmah yang aku peroleh selama dirawat di rumah sakit.

Terima kasih untuk semuanya..because of you, i am not alone to live in this world :)

art work session #2 'get well soon, Ahmad! :)'

get well soon drawing :) thank you, Yuki and friends!

Ini adalah gambar yang dibuat oleh anak-anak kelas XI DKM Al-Hikmah untukku saat aku dirawat di RS Borromeus karena kecelakaan.

Aku sendiri tidak menyangka waktu hari selasa, 10 November, kira-kira sekitar jam 6 sore, Haryo datang lagi menjenguk ke kamarku di rumah sakit sambil membawa selembar kertas. Ternyata dia mengantarkan gambar hasil mereka. Setelah ditanya ke Haryo, ternyata yang menggambar mukaku ini adalah Yuki, anak kelas XI yang ikutan DKM. Aku memang kenal dengannya (soalnya Yuki itu temannya pacar si Fajar dan ada temanku yang suka sama dia), tapi masih belum kenal dekat seperti teman. Walaupun masih belum kenal terlalu dekat, ternyata dia dan teman-temannya memberiku pesan dukungan agar cepat sembuh lewat gambar ini.

Karena sangat berkesan buatku, jadinya aku sengaja scan gambarnya begitu sampai di rumah setelah kembali dari rumah sakit. Terima kasih buat semuanya :) because of you, i am not alone to live in this world..

photography session #17 'at forrest..'

XII IPA 4 go green :)

Hmm..Sudah lama tidak jalan-jalan lagi ke hutan. Jadi kangen juga lihat foto ini, saat aku rajin-rajinnya jalan-jalan bersama teman-teman. Foto ini aku potret saat anak-anak XI IPA 4 ber-hiking ria ke Taman Hutan Raya Juanda ke Maribaya dan perjalanan baru saja dimulai. Di dalam foto ini ada Ucup, Editha, saudaranya Editha, Anto, Bulan, Tria, Putri, Fajar, Utari, Ece, Arief, Davin, dan Haryo. Satu lagi ada Widi, tapi dia tidak ikutan foto (sembunyi di belakang Ucup).

Kami menyusuri jalan di hutan sejauh 5,5 km untuk sampai di Maribaya. Konyolnya, acaranya diadakan saat hari jumat dan kami belum sampai di Maribaya dan belum menemukan masjid. Akhirnya kami (terutama laki-laki yang hukumnya wajib) tidak melakukan shalat jumat (kecuali Haryo yang nonislam) dan menggantinya dengan shalat zuhur.

Waktunya pulang juga harus jalan lagi. Secara gitu ya, karena capek naik angkot dari Maribaya ke THR Juanda. Tambah jauh aja itu jaraknya! Jadi, totalnya hari itu kami berjalan sejauh 11 km dan kembali lagi sekitar pukul 15.30 sore. Meskipun lelah, hari itu tetap menyenangkan dan sangat berkesan untuk pengalamanku.

photo taken by me at THR Juanda, Dago Pakar, Friday, April, 10, 2009

photography session #16 '3 years'

Grobak 8, 3 years ago (9th grader-End of junor high school). Full squad, 44 persons
photo taken at Jonas Photo Studio, 2006


Grobak 8, now (12th grader-End of senior high school). Half squad, 22 persons
photo taken at Papyrus Photo Studio, 2009

Sudah banyak hal yang membuat kita semua berubah sejak kita meninggalkan bangku SMP tiga tahun yang lalu. Selain perubahan fisik, perubahan pun terjadi pada mental dan sikap kita semua.

Setelah lulus, Semuanya bertebaran di SMA yang diinginkan dan membuat cerita dan pengalaman baru bersama teman dan dunia yang baru. Kemudian tak terasa tiga tahun telah berlalu dan kita semua dipertemukan kembali, tentunya dalam suasana yang berbeda.

Tiga tahun yang lalu, saat terakhir foto angkatan, kita semua menuju jenjang pendidikan menengah atas.
Tiga tahun setelahnya setelah pertemuan kembali, kita semua menuju jenjang pendidikan tinggi.

Pertemuan kembali tiga tahun kemudian ini menyadarkanku pada suatu kesimpulan: Waktu yang tersedia terlalu singkat saat kita menyadarinya dan tiga tahun yang berlalu telah mengubah "wajah" kita semua..Tiga tahun yang telah berlalu sama seperti sebuah keajaiban bagiku.

Endah N Rhesa-Catch The Windblows

When I wake up everyday
I smell coffee near my window
I realize it’s summer day
Then I start leaving my pillow
i don’t wanna miss a greatest thing I’ll have today
suddenly I thank God im still alive in this beautiful day

whole world seems so wonderful to me
even though im blind and cannot see the sunrise
even though im blind, I only catch the windblows in my hand
I am happy

Yellow, green, sunburst, pink many colors don’t mean a thing
They don’t disturb me at all
Real world not so complicated to me until I die
The more I feel the more I see in everything that passion me
The more I feel the more I believe in everything that makes me want to
live

whole world seems so wonderful to me
even though im blind and cannot see the sunrise
even though im blind, I only catch the windblows in my hand
I am happy

Endah N Rhesa official website: http://www.endahnrhesa.com

Mean of Day

"Yesterday is a history, tomorrow is a mystery, today is a gift, that's way gift is called 'present'."

Kung Fu Panda-Master Oogway

Memori 7 Oktober

7 Oktober berawal dari pertemuanku dengannya di suatu malam pertengahan bulan September. Seorang gadis pendek berkulit coklat manis dan berambut sebahu yang kutemui bersama dua temanku. Senyum lebarnya begitu ramah dan menyenangkan saat gadis itu menyambut kami di rumahnya. Meskipun pendek, gadis itu adalah teman seangkatan di sekolahku. Sebenarnya bukan sekali itu aku mengunjungi rumahnya. Ini adalah yang kedua kalinya. Di rumahnya aku dan kedua temanku disuguhi makanan dan minuman ringan. Ada jus dan puding yang diberi kuah vla. Aku sempat berkelakar kepada gadis itu bahwa temanku bilang aku diundang ke rumahnya karena ada Pizza Hut. 'Dia' dan kedua temanku tertawa saja mendengar ucapanku itu.

"Eh, katanya kamu udah beli Pizza Hut ya? Enak nih, malam-malam gini."
"Lho, kata siapa aku beli Pizza Hut, Mad?",
'dia' malah bertanya balik dengan rasa heran.

Jawaban
'dia' membuatku terkejut dan aku mulai curiga kalau temankulah yang berbohong.

"Itu kata mereka lho. Tadi waktu di jalan mau ke sini, dia bilang ada Pizza di sini. Makanya aku udah semangat datang ke sini, hehe."
"Ooh, haha. Aku enggak beli Mad, itu emang kerjaan iseng mereka aja!", jawab
'dia' tertawa.
"Haha, si Ahmad ketipu! Emang bohong Mad, itu sih cuma kerjaan kita aja!",
temanku tampak puas dengan keisengan mereka.
Lalu, 'dia' ikut menimpali lagi, "Maaf ya Mad, tapi coba lain kali kamu yang beli, terus makan di sini, oke?"
"Haha, ya sudah enggak apa-apa, tapi sayang aja enggak bisa makan pizza."

Kemudian semuanya tertawa, termasuk aku. Menertawai kelakaranku sendiri.

Acara berlanjut dengan obrolan santai sambil bercanda dan tertawa. Sesekali diselingi obrolan serius juga. Setengah jam yang kuhabiskan di rumahnya membuatku betah, membuat malam yang dingin itu menjadi hangat. Di bawah terang lampu ruang tamu yang memancarkan sinar kuning itu, perasaanku menjadi tenang. Begitu juga kedua temanku. Mereka pun merasakan hal yang sama denganku.

"Enak ya ngobrol-ngobrol di rumah dia", begitu kata mereka setelah pulang dari rumahnya.

Itu baru permulaannya saja. Sebuah prolog dari memori 7 Oktober. Sebuah pertemuan di malam pertengahan September, bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

Hari demi hari berlalu dan tak terasa hari raya idul fitri telah tiba. Seperti kebiasaan pada umumnya saat merayakan idul fitri, aku mengirimkan ucapan selamat idul fitri kepada teman-temanku, baik lewat SMS atau friendster (saat itu masih menjadi tren), termasuk ‘dia’. Aku mengirimkan ucapan selamat hari raya idul fitri lewat testimoni di profil friendster miliknya.

Aku
10/01/2008 11:38 am

~happy eid mubarak~

!it's time to celebrate the great glorious day!
..usai sdh shaum kita selama 1 bulan,dan sy mengucapkan mohon maaf lahir dan batin,smoga kita bertemu kembali di bulan ramadhan taun depan ;)..

P.s. ntar bagi-bagi THR nya ya dan pizza hut di rmh km! ;) hehe

Dia
10/02/2008 4:40 pm

maaf lahir batin juga yaa ahmad.
hahaha. ke rumah aku cptan! lg bnyk mkanan.
tp tetep pizza mah ga ada eung :D

Aku
10/02/2008 6:06 pm

yaa,ngga ada :P haha,g tau ni skrg ma,lg sibuk mudik,ntar pas ak dtg k sna jgn abis makanannya ya :P
mudik kmn?

Dia
10/05/2008 10:14 pm

iya siap,ahmad!
tenang .. disisan buat ahmad mah. hahaha.
mudik kmna?
aku ga kmna2,pling jkt itu jg cuma pp.
klo mudik,jgn lupa bw oleh2 nyo! ;)

Aku
10/06/2008 11:28 am

bagusbagus klo d sisain,haha :P
ak d tasik skrg,hr ni pulang,mngkin bsk klo g lusa k rmh km ye ;) ??skalian makan ma maap2an,hehe
oleh2?haha,iya de klo dapet ;P

Entah kenapa ajakan untuk datang ke rumahnya selalu terngiang di kepalaku. Ada suatu dorongan yang kuat, entah perasaan apa yang memberikan dorongan itu.

Selasa, 7 Oktober. Pagi itu aku pergi ke toko Disc Tarra Bandung Super Mal untuk mencari dan membeli CD lagu atau film. Sengaja hari itu aku tidak menggunakan motor untuk pergi karena malas. Sayangnya benda yang aku cari itu tidak ada di sana. Tiba-tiba aku teringat pada pembicaraan tempo hari lalu dengannya, si gadis pendek berkulit coklat manis dan berambut sebahu yang terakhir kutemui di pertengahan September.

"Ah, mumpung lagi bosan dan masih suasana lebaran, coba aja main ke rumah dia."

Akhirnya aku putuskan untuk membeli makanan sebagai kejutan untuk dia. Awalnya aku berniat membeli Pizza Hut karena aku masih ingat dengan ulah iseng temanku. Tapi akhirnya kuputuskan untuk membeli donat J.Co karena rasanya yang manis dan enak. Jadilah selusin donat J.Co untuk 'dia'. Lalu aku bergegas pulang ke rumah dengan angkot karena khawatir kalau datang terlalu siang dia tidak ada di rumah. Tapi aku sudah siap jika dia tidak ada di rumahnya. Toh donatnya bisa dimakan olehku dan keluarga.

Jarak antara rumahku dengan rumahnya tidak terlalu jauh, masih satu komplek. Kira-kira sekitar jam 12 siang aku sampai di rumahnya, tentunya dengan J.Co yang sudah kubeli. Kupanggil namanya dari luar pagar rumahnya yang cukup besar. Beberapa saat kemudian keluarlah seorang lelaki yang menyambutku. Semoga saja
'dia' sedang ada di dalam rumah. Setelah menjelaskan maksud kedatanganku, lelaki itu mengerti dan kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil namanya. Untunglah gadis itu sedang ada di dalam rumah. Perasaanku lega.

Tak lama setelah lelaki itu masuk ke rumah untuk memanggil, keluarlah orang yang aku maksud.
'Dia' masih sama dengan yang seperti dulu. Tetap dengan senyumnya yang hangat.

"Eh, Ahmad. Sendirian aja?"
"Iya nih, hehe. Emang kamu pikir aku mau datang dengan siapa?"
"Kirain kamu bakal datang sama teman kamu. Ayo masuk Mad!"

Setelah masuk ke dalam rumahnya, aku mulai membuka pembicaraan dan berbasa-basi.

"Emm..ini ada oleh-oleh buat kamu nih, hehe", Dia menerimanya dan tampak senang menerimanya.
"Wah, makasih ya Mad J.Co-nya!"
"Wah, beneran ini buat aku Mad? Makasih ya. Sama-sama, minal aidzin juga."

Lalu, aku dan ’dia’ duduk berhadapan terpisah oleh sebuah meja di depanku. Kali ini aku bisa lebih leluasa bercerita dengannya, hanya berdua saja. Sampai sekarang dalam kepalaku masih terbayang suasana dan semua cerita yang kubagi dengannya saat itu. Aku memulai ceritaku dari pengalaman buka bersama di Jakarta yang heboh sampai benda-benda yang aku inginkan dan cita-cita yang ingin aku raih. Sedangkan ’dia’ mulai bercerita dari masalah handphone yang sudah dua kali ganti gara-gara kecerobohannya, kodok yang tiba-tiba meloncat dari tempat cucian saat ’dia’ sedang mencuci baju, penampakan burung besar misterius yang menghilang begitu saja di garasi, membahas lagu-lagu favorit, membahas adiknya yang kecil dan teman adiknya yang nakal, dan masih banyak lagi. Tapi intinya aku merasa sangat klop dan nyaman bercerita dengannya.

Seiring dengan waktu yang terus berdetak, semakin lama waktu yang kuhabiskan untuk bercerita dengannya, aku semakin merasa ingin mengenalnya lebih dekat. Akhirnya aku tahu kalau dia suka main piano dan keluarganya mengelola kolam renang di komplek rumahku. Di tengah ceritanya itu, ’dia’ menawariku untuk mencicipi cookies yang dia buat sendiri.

”Selama di rumah, aku udah bikin kue-kue gitu Mad. Kayak puding vla sama cookies gitu. Mau nyobain enggak Mad? Masih ada sisa kok.”
”Oh iya? Bikinan kamu sendiri nih? Wah, kayaknya enak, mau nyobain dong!”, jawabku dengan penuh semangat.

Dia hanya senyum-senyum saja mendengar jawabanku. Aku memang tidak pernah malu untuk meminta makan kepada orang lain.

"Oke, tunggu ya Mad. Aku ambil dulu di belakang, tapi jangan protes ya kalau rasanya dikit pahit, hehe."
"Ah, enggak apa-apa kok. Rasa sih bisa diatur nanti. Penasaran nih!"

Kemudian 'dia' pergi ke dapur dan kembali dengan sekotak
cookies yang 'dia' buat sendiri.

"Nah, ini Mad, cobain deh rasanya gimana?"
"Sebentar ya, aku rasain dulu", jawabku sambil mengambil cookies itu.

Kugigit cookies itu perlahan-lahan dan aku mulai merasakan ada rasa yang menyentuh di lidahku. Sedikit pahit memang. Tapi aku tidak terlalu memedulikan soal rasa yang terasa di lidah. Bagiku enak-enak saja, apalagi ini buatan 'dia' sendiri. Rasa orisinal, sebuah rasa kehangatan yang menjadi resep rahasia 'kelezatan' cookies bagiku.

"Hmm..rasanya enak kok walaupun sedikit pahit sih. Tapi buat aku enggak ada yang enggak enak kok!"
"Oh iya? Wah makasih Mad, hehe."
"Eh, ini gula ya, yang ada kayak kristal putih-putih gitu?"
"Iya Mad. Soalnya tadi mau bikin cookies yang ada butiran gula gitu di atasnya. Eh, tapi malah gagal deh. Gulanya malah nyatu sama cookiesnya sih, haha."
"Tetep enak kok rasanya. Jangan khawatir!"

Obrolan pun terus berlanjut membahas berbagai topik lain. Salah satunya yang paling membekas adalah cerita kamera. Hal terakhir inilah yang akhirnya membuatku benar-benar jatuh hati pada saat itu. Aku cerita kalau aku ingin punya kamera yang bagus sejenis SLR dan ngebet banget ingin jadi fotografer. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengawali mimpiku ini. Ternyata 'dia' memberikan respon yang baik, karena 'dia' juga punya hobi yang sama denganku.

"Kamu juga punya hobi fotografi, Mad?", tanyanya kepadaku.
"Iya, tapi bingung mau mulai dari mana ini juga..hmm"
"Oh iya? Coba deh Mad kalau kamera ini gimana?", tawarnya kepadaku.
"Kamera yang kayak gimana?"
"Tunggu bentar ya, aku mau ngambil dulu di belakang."

Setelah menunggu beberapa lama, 'dia' kembali dengan membawa sebuah kamera Canon jenis SLR, mirip dengan yang kuinginkan!

"Nah, ini dia kameranya Mad."

Aku meraba kamera itu dan mencobanya. Tapi tombol pengaturnya terlalu banyak-maklum baru pertama kali-dan itu membuatku sedikit kebingungan. Lalu dia mengajarkan beberapa teknik memotret dan cara memakai kamera itu. Aku semakin kagum kepadanya.

"Wah, bagus banget! Kamu ikutan les fotografi gitu enggak?", tanyaku padanya.
"Enggak Mad. Soalnya aku juga males kalau ikutan les. Mending aku sih otodidak."

Terakhir dia mengajakku berfoto dengan kamera itu sampai ayahnya datang dari ruang keluarga melihat kami. Karena kedatangan ayahnya itu yang membuatku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Setelah disadari, ternyata aku sudah menghabiskan waktu 3,5 jam di rumahnya. Sebelum pulang, tak lupa aku minta nomor handphone-nya.

"Makasih ya Ahmad, udah dateng dan ngasih J.Co."
"Ah enggak apa-apa kok, malah tadinya mau beliin Pizza Hut buat kamu, hehe."
"Wah, ini juga udah cukup kok, Mad."
"Kalau gitu aku pulang dulu ya, daah!"
"Sama-sama Ahmad. Daah juga!"

Aku pun pulang ke rumah seakan melayang tanpa beban. Sebab hari itu aku telah jatuh hati kepada seorang gadis bernama 'dia'. Kesan yang aku dapatkan hari itu, sampai sekarang tidak bisa aku lupakan.

Lalu 12 Oktober, dia mengirimkan balasan dari testimoni terakhir yang aku kirim ke profilnya di friendster.

Dia
10/12/2008 8:15 pm

ahmad makasih j.co nya :D
ayooo bljr photography yg rajin nyo,biar jago!


Baru pertama kali aku mendapat dukungan seperti ini dari temanku. Aku merasa 'dia' menjadi motivator dan memberikan inspirasi dan dukungan moral bagiku untuk menjadi seorang fotografer andal. Kemudian aku mengirimkan balasannya dan sejak saat itu 'dia' tidak pernah membalas testimoniku lagi.

Tapi kisah ini belum selesai..Setelah kejadian di tanggal 7 Oktober itu ada banyak hal yang telah terjadi. Mustahil kuceritakan apa yang telah terjadi selanjutnya. Awalnya aku berharap semua berjalan lancar dan dia pun tahu perasaanku padanya. Kenyataan berkata lain. Semuanya berakhir tanpa kesimpulan. 7 Oktober yang manis sudah berubah menjadi pahit.

Awalnya aku menyalahkan orang lain atas segala hal yang terjadi. Tapi akhirnya aku tak menyalahkan siapa-siapa lagi, karena menurutku itu sama sekali tidak membantu menyelesaikan masalah yang terjadi. Justru keadaan makin sulit dimengerti. Aku merasa bodoh. Mungkin ini semua salahku yang terus bergantung pada orang lain dan menyia-nyiakan memori 7 Oktober yang sudah susah payah kubangun. 7 Oktober kini hanya menjadi sebuah angan dan mimpi yang jauh saja..

Bandung, 7 Oktober 2009 [23.38 PM]


when you love someone but it goes to waste..
when you need someone's love to share anything that you have..