RSS

Let's Writing!

Menulis adalah kegiatan mengekspresikan ide, mimpi, perasaan, hasil pemikiran, dan pengalaman hidup melalui suatu rangkaian kata. Kegiatan ini adalah bentuk komunikasi aktif secara tidak langsung. Melalui tulisan, penulis bisa memengaruhi opini atau pendapat pembaca, memberi suatu informasi atau pengetahuan, memberikan motivasi atau dorongan, dan menggugah emosi pembaca untuk melakukan suatu tindakan.

Seringkali banyak orang berkata bahwa dirinya tidak bisa menulis. Seperti dulu saat pelajaran bahasa Indonesia, seorang guru menyuruh murid untuk membuat gagasan pokok suatu paragraf atau membuat karya sastra. Teman-temanku semuanya bisa menulis, tapi tidak menggerakkan ujung bolpen mereka untuk menulis. Ada bermacam-macam alasannya seperti tidak ada ide, di kepala sudah ada apa yang harus ditulis tapi bingung bagaimana menuliskannya di atas kertas, bahkan malas berpikir untuk menulis. Akhirnya, alasan-alasan ini digunakan untuk mengatakan dirinya tidak bisa menulis.

Secara umum kegiatan menulis hanya membutuhkan satu hal, yaitu berpikir, meskipun ada beberapa jenis kegiatan menulis yang membutuhkan suatu aturan khusus tertentu seperti metodologi ilmiah pada makalah. Berpikir di sini berarti bagaimana merangkai kata menjadi sebuah kalimat utuh dan padu dengan padanan kata yang tepat. Menulis juga terkadang membutuhkan keterampilan berimajinasi, analisis, daya ingat, dan penggunaan majas. Untuk memperoleh keterampilan tersebut, banyaklah membaca dan bergaul dengan banyak orang. Kegiatan membaca dapat membantu kita untuk menemukan inspirasi, pengetahuan, mengasah otak, dan mempelajari hasil karya orang lain. Tidak perlu membaca semua jenis bacaan. Cukup membaca apa yang disukai saja sudah membantu. Sementara itu, bergaul dengan banyak orang membuat kita menemukan berbagai hal menarik dan pengetahuan baru yang selama ini tidak kita ketahui yang mungkin menarik untuk ditulis.

Aku sendiri mulai suka menulis sejak kecil. Aku memulainya dari diary yang berisi cerita sehari-hari (tugas sekolah). Rasanya menyenangkan menceritakan kegiatan yang aku lakukan. Menulis diary hanya membutuhkan imajinasi, daya ingat, dan perangkaian kata. Ini adalah jenis kegiatan menulis yang paling mudah. Sejak kecil aku juga suka membaca buku cerita, biografi, dan buku-buku sejarah dalam bentuk komik yang biasanya aku pinjam dari perpustakaan kota. Baru-baru ini aku merasakan manfaat membaca dan menulis yang aku lakukan saat kecil. Aku pernah menghabiskan 7 tahun masa kecilku di Jepang sampai kelas 2 SD. Karena sering membaca dan menulis, aku menguasai huruf kanji di atas rata-rata anak kelas 2 SD.

Saat kelas 4 SD, waktu baru pindah ke Indonesia aku mulai menulis diary. Karena masih asing dan belum menguasai bahasa Indonesia, saat itu huruf yang aku tulis sangat berantakan dan pola kalimat yang sama berantakannya. Aku masih menyimpan diary itu sampai sekarang dan suka tertawa geli melihat tulisan sendiri di masa lalu itu. Kegiatan menulisku mulai mengarah ke arah yang lebih serius saat duduk di bangku SMP. Guru sejarah saat itu mendorong para muridnya untuk beranalisis. Aku ingat saat mengerjakan ulangan sejarah, untuk menjawab satu soal saja aku bisa menghabiskan setengah halaman kertas polio karena saking asyiknya "bercerita". Selain itu, aku juga mulai suka membaca buku, majalah, dan menonton berita bertema sosial dan politik, terutama politik dunia dan Islam. Waktu itu sedang hangat-hangatnya berita Perang Irak dan terorisme. Aku teringat kembali saat mengajak kedua temanku untuk bersama menulis buku tentang situasi politik saat itu dan teori konspirasi. Aku masih punya catatan rencananya, tapi rencana itu tidak pernah terwujud.

Saat SMA, aku mulai jenuh dengan tema politik karena semua hal yang aku baca dan dengar tentang berita itu hampir semuanya mengecewakan dan membuat sakit hati. Akhirnya aku mengalihkan bacaanku pada dunia traveling yang menakjubkan. Bacaan yang menginspirasiku saat itu hingga kini adalah buku Trinity (Perucha Hutagaol) yang berjudul Naked Traveler. Aku membelinya saat sang penulis buku tidak seterkenal saat ini. Setelah beres membaca buku itu, aku mencari buku-buku catatan perjalanan lainnya seperti The Lonely Planet Story yang ditulis oleh Tony Wheeler dan Maureen Wheeler. Setelah membaca buku-buku tersebut, aku bercita-cita menjadi pengelana dunia yang mencatat kisah perjalanannya. Aku mendapatkan momen yang sangat tepat karena saat itu temanku mengajakku backpacking ke Bali. Aku juga mulai belajar dunia blog dari guruku dan membuatku menemukan dunia menulis yang baru. Sekarang aku lebih menyukai menulis di blog daripada di buku karena menurutku tampilan blog lebih rapi dan menarik (lihat posting Satu Tahun Blogging (Keterpaksaan yang Menjadi Hobi).

Ada banyak manfaat yang kita dapatkan dari menulis. Selain kita bisa memperkenalkan diri lewat tulisan dan cerita, menulis juga bisa memperkuat daya ingat. Kita bisa mempelajari dan memahami pemikiran orang lain dari tulisan dan menambah teman baru serta wawasan baru. Ada juga penulis yang menjadi kaya dan terkenal berkat tulisannya yang disukai banyak orang, seperti J.K. Rowling (Harry Potter), Stephanie Meyer (Twilight, New Moon, Eclipse), Raditya Dika, Trinity, dan masih banyak lagi. Mereka pun pernah mengalami yang namanya kebuntuan ide atau mood yang jelek. Tapi mereka memiliki caranya masing-masing untuk mengencerkan kembali 'kepala yang beku' dan mengembalikan suasana hati. Kalau caraku adalah mendengarkan musik, menonton, atau tidur-tiduran sampai tertidur di sofa.

Kenali juga karakter dan gaya penulisan yang dimiliki dan jangan mencoba untuk meniru orang lain. Boleh saja meminta tips kepada penulis berpengalaman, tapi karakter dan gaya yang dimiliki jangan diubah. Gali dan temukan sendiri karakter yang secara alami kita miliki. Menulis adalah kebebasan berekspresi yang dimiliki setiap individu dan setiap individu memiliki cara berekspresi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, aku menyukai gaya penulisan dengan bahasa yang baik dan benar, meskipun kadang memakai bahasa santai dan informal. Aku juga lebih suka menulis hal-hal yang bersifat fakta dengan bahasa yang lugas tanpa banyak majas, kiasan, dan peribahasa. Aku juga suka menulis sesuatu secara detil dan panjang, meskipun terkadang membuatku repot.

Terakhir, menulis akan lebih terasa maknanya saat kita menulis dengan sepenuh hati dari perasaan yang amat mendalam. Aku pernah mengalaminya saat menulis memoar menjelang wisuda SMP. Waktu itu aku sangat bangga dengan sekolahku dan tak bisa melupakan kebersamaan dengan teman-temanku yang sudah melewati berbagai momen selama tiga tahun. Perasaanku diserang rasa bangga dan rindu yang becampur aduk. Entah bagaimana, aku bisa menulis dengan lancar dan semua kata-kata yang ingin aku sampaikan dapat tersampaikan secara sangat baik. Setelah selesai menulis, aku merasakan hatiku sangat ringan dengan kepuasan tertinggi.

So, let's writing! Bila disadari, ada banyak hal menarik yang bisa ditulis dan diceritakan karena setiap orang memiliki ide, mimpi, perasaan, hasil pemikiran, dan pengalaman hidup yang unik dan berbeda-beda. Sampaikan apa yang kamu miliki dan kenalkan dirimu pada dunia :)

"Write. Start writing today. Start writing right now. Don’t write it right, just write it –and then make it right later. Give yourself the mental freedom to enjoy the process, because the process of writing is a long one. Be wary of “writing rules” and advice. Do it your way."- Tara Moss (www.advicetowriters.com)

Growing Up Bin Laden

Istri dan Anak Osama Membawa Kita Menyelami Kehidupan Keluarga Bin Laden yang Penuh Rahasia

Penulis: Jean Sasson, Najwa Ghanem bin Laden, Omar bin Laden
Penerbit: St. Martin's Press New York, Hak Terjemah bahasa Indonesia oleh Penerbit Literati
Penerjemah: Arum Darmawan
Tahun Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 545 halaman
Harga: Rp109.000,00

Siapa yang tidak kenal dengan Osama bin Laden saat ini? Pasti ada yang tidak tahu, tapi hampir seluruh umat manusia di dunia tahu sosoknya: Teroris buronan nomor wahid sedunia yang melambungkan namanya lewat organisasi radikalnya, Al-Qaeda, dan serangkaian aksi teror yang ditujukan kepada Barat, terutama setelah Tragedi WTC 11 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 orang.

Sosoknya yang kontroversial membuat sebagian orang menjadi penasaran tentang kehidupan seperti apa yang dia jalani, bagaimana latar belakangnya, mengapa dia bisa menjadi seorang konservatif dan radikal, bagaimana dia mengerjakan semua 'proyek' ini, ada di mana dia sekarang, dan berbagai pertanyaan yang jawabannya masih diselimuti oleh kabut kemisteriusan. Ada banyak buku dan laporan yang ditulis mengenai sepak terjang dan kehidupan Osama bin Laden, tapi kebanyakan buku dan laporan masih berupa hasil penelusuran melalui sumber yang tidak dekat dengan keluarga Osama dan isu yang perlu diverifikasi kebenarannya, sampai akhirnya Jean Sasson berhasil menulis dan menerbitkan buku memoar yang dituturkan langsung oleh keluarga Osama bin Laden. Hal tersebut membuat bukunya, Growing Up Bin Laden, menjadi buku pertama yang membahas Osama dari sudut pandang keluarga terdekatnya.

Buku Growing Up Bin Laden ditulis berdasarkan penuturan istri pertama Osama, Najwa Ghanem bin Laden dan anak keempat Osama, Omar bin Laden. Menurut catatan akhir yang ditulis oleh Jean Sasson, Omar lah yang meminta kisah ayah dan keluarganya dijadikan sebuah memoar. Awalnya Jean tidak berminat untuk menulisnya menjadi sebuah buku, namun sebagai penulis dia penasaran dengan apa yang dialami oleh keluarga Osama. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa Omar, anak ke-4 Osama, berada di barisan depan sebagai penentang tindakan ayahnya. Sementara itu, Najwa yang kini tinggal di Suriah, terlibat dalam proses penulisan buku hanya karena diajak oleh anaknya. Jean juga menulis catatan di awal buku bahwa buku ini menceritakan sebuah kisah keluarga dan kenangan mereka selama hidup bersama dengan Osama sebagai kepala keluarga, istri-istrinya yang lain, dan anak-anaknya yang lain.

Ada banyak lika-liku dan suka-duka kehidupan yang dilalui oleh mereka selama hidup bersama Osama. Diceritakan dalam 30 bab, penuturan oleh ibu dan anak dari dua sudut pandang berbeda ini begitu menarik dan saling mendukung. Sang Ibu, Najwa, menceritakan permulaan pertemuannya dengan Osama, kasih sayang dalam membesarkan anak-anaknya bersama istri-istri Osama yang lain, dan kesabaran dalam menjalani hari-hari yang berat. Ia adalah seorang ibu yang taat ajaran agama. Meskipun mejalani hari-hari yang berat, Najwa masih menghormati suaminya yang memutuskan tak akan pernah menceraikan Najwa dan tidak mencelanya, meskipun suaminya dicap dunia sebagai teroris.

Sementara itu, Omar, putra ke-4 Osama yang sempat menjadi tumpuan harapannya, digambarkan ibunya sebagai anak yang kuat, berani, dewasa, perhatian, dan sangat menyayangi ibunya. Omar bercerita bahwa dulu dialah anak yang paling mengharapkan kasih sayang ayahnya yang begitu sibuk saat masih kecil. Dia juga bercerita tentang sikap ayahnya yang keras dan menolak kehidupan modern, mengajari anak dan istrinya untuk hidup disiplin dan berjuang dalam penderitaan, mendedikasikan hidupnya untuk Islam dan negaranya, dan yang terpenting adalah misi hidupnya dan obsesinya kepada jihad melalui jalan perang. Dialah putra yang hampir selalu berada di dekat ayahnya dan menjadi putra pilihannya.

Di bagian akhir cerita, Omar bercerita bahwa sebelum keluar dari Afghanistan, ia dan ayahnya berdebat mengenai hidup dalam kekerasan dan peperangan yang seolah tak berujung. Dia tak setuju dengan apa yang ayahnya lakukan. Ia juga diperingatkan oleh Abu Haadi, salah satu tangan kanan ayahnya, yang memperingatkannya agar segera keluar dari Afghanistan. Dia membisikkan kepada Omar bahwa ada sebuah rencana besar yang sedang dipersiapkan dan kemungkinan akan berdampak sangat membahayakan bukan hanya padanya, tapi seluruh Afghanistan. Mendengar hal itu, Omar meminta ibunya, Najwa, untuk segera keluar dari Afghanistan dan pindah ke Suriah, kampung halaman ibunya. Akhirnya Najwa meminta izin kepada sang suami, Osama, yang secara tak terduga mengizinkan kepergiannya. Osama hanya mengizinkan Abdul Rahman (anak ke-2), Rukhaiya (anak ke-10), dan Nour (anak ke-11) karena anaknya yang lain sudah menikah dan harus menetap di Afghanistan bersama ayahnya. Satu hal yang Najwa tak mengerti adalah mengapa dia tak diizinkan membawa Iman dan Ladin yang masih kecil dan butuh perhatian ibunya. Karena membantahnya pun percuma, dia menuruti suaminya dan meninggalkan negara yang dirundung perang sipil itu pada tanggal 9 September 2001, tepat dua hari sebelum Tragedi WTC. Sejak saat itu, baik Najwa maupun Omar, tak pernah berkomunikasi lagi dengan keluarganya yang tinggal di Afghanistan. Mereka cemas dan bertanya, apakah mereka selamat dari invasi Amerika tahun 2001 yang dillakukan akibat Tragedi WTC 11 September 2001.

Setelah membaca buku ini, aku membuat beberapa kesimpulan tentang sosok Osama. Dia memang sosok yang konservatif dan keras. Tapi toh dia pun manusia. Pasti ada sisi baik yang dia miliki. Meskipun keras, dia adalah orang yang loyal dan mendedikasikan hidup kepada apa yang dia perjuangkan. Sewaktu Perang Afghanistan-Rusia, dia menjadi pahlawan yang dikagumi banyak orang, Meskipun dia adalah orang yang serius, dia pernah tertawa dan mengajak keluarganya untuk bermain dan berlibur. Dia adalah orang yang taat agama. Dia juga pernah merasakan kegelisahan akan keberlangsungan hidup keluarganya saat terusir dari Arab, Sudan, dan terakhir terdampar di Afghanistan. Dia hanya menjalankan apa yang dia yakini dan berkeras mendapatkan apa yang dia inginkan dan tak ingin dibantah.

Lantas apa yang membuatnya berubah drastis?

Menurutku, seseorang berubah karena memiliki alasan. Osama bin Laden tidak serta merta menjadi teroris yang seringkali membunuh orang tak berdosa. Menurutku, dia menjadi seperti ini karena dendam pribadi dan keprihatinannya kepada dunia, terutama Barat, yang menginjak-injak harga diri umat Islam. Dia bukanlah orang bodoh, dia adalah seorang intelek yang senang mendengarkan berbagai berita. Bahkan Omar bercerita bahwa ayahnya gemar mendengarkan siaran berita radio BBC saat tinggal di Afghanistan. Hatinya sudah hancur saat loyalitasnya dikhianati oleh Kerajaan Arab Saudi yang bersekutu dengan Amerika saat Perang Teluk, terusir dari Sudah akibat tekanan dari berbagai pihak, dan melihat begitu banyak kezaliman yang membuatnya sangat marah. Ditambah lagi dengan pertemuannya dengan para pejuang radikal lain seperti Dr. Ayman Al-Zawahiri dan Omar Abdel Rahman dari Mesir. Mereka juga turut mewarnai pola pikir Osama hingga menjadi seperti yang kita tahu saat ini.

Buku ini begitu menarik dan bermakna banyak sehingga aku berhasil membaca seluruh isi buku dalam waktu satu minggu. Buku ini memberikan perspektif berbeda dalam pendekatan kepada Osama. Aku tidak setuju dengan apa yang dia lakukan, tapi aku juga ingin memahami apa yang dia pikirkan dan alami hingga akhirnya menjadi sosok yang radikal ekstremis. Di sini, baik Najwa maupun Omar, tidak menyatakan kebencian kepada ayahnya. Omar hanya menginginkan ayahnya mengubah pandangannya kepada dunia selama ini.

Akhirnya, meskipun berhasil menguak sisi lain Osama dari perspektif keluarganya, semua maksud ucapan, gagasan, dan pemikirannya yang termasuk opini pribadi Osama, tetap menjadi sebuah tanda tanya besar hingga dia muncul kembali. Wallahu a'lam bi shawab.

Ayah telah membuat pilihan, dan aku pun demikian.
Aku, akhirnya, adalah penguasa diriku sendiri
Aku tak keberatan hidup dengan cara seperti itu.

Omar bin Laden-Bab 30: 11 September 2001, hal. 482

Kini ku tak mampu lagi tuk ikuti caramu
Hanya membuatku sakit hati
Kini ku tak mau lagi
Jalanmu bukan jalanku
Dan kau tlah memilih

Andra and The Backbone-Jalanmu Bukan Jalanku

Kisah di Balik Sebuah Tiket

Tak hanya sekadar tiket, tapi juga sebuah kisah dan kenangan

Karena bosan terus-terusan online dengan komputer atau laptop (bahkan sudah muak), kemarin aku mencoba membereskan meja dan lemariku yang masih dipenuhi oleh banyak buku dan kertas-kertas yang berserakan. Padahal aku sudah membereskannya berulangkali. Selama beres-beres, aku menemukan dan mengingat kembali berbagai nostalgia yang selama ini tersimpan di atas meja dan di dalam lemariku. Ada clear holder yang menyimpan banyak kertas ulangan, soal, pengumuman sekolah, dan catatan dari SD sampai sekarang, album koleksi perangko, surat tawaran belajar dari berbagai perguruan tinggi dan politeknik, buku harian mulai dari kelas 4 SD, dan kumpulan tiket yang gambarnya ada di atas. Semuanya sangat sayang untuk dibuang, karena bagiku masa lalu adalah sesuatu yang sangat berharga dan tak akan terulang kembali. Tapi aku sempat menyesal karena dulu aku sempat menjual kartu Yu-Gi-Oh asli Jepang pemberian temanku (hanya) seharga Rp8.000 dan menjual hampir sebagian besar kenanganku saat sekolah di Jepang kepada tukang loak demi mendapatkan sedikit rupiah. Barang yang dijual meliputi buku harian, buku PR, buku pelajaran, dan tugas sekolah. Dulu aku memang belum paham dan tak menghargai masa lalu yang kumiliki.

Oke, daripada kebablasan dari tema posting sekarang, aku ingin bernostalgia tentang kisah dan kenangan yang terdapat di balik tiket-tiket yang ada di gambar di atas. Kita mulai dari tiket yang paling kiri sampai yang paling kanan.

Tiket Geotropism of The Halloween (GOTH)

Geotropism of The Halloween atau disingkat GOTH adalah bazar yang diusung pada tahun 2009 dan dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 November di sekolah setelah mengalami penundaan. Harga tiketnya Rp15.000. Sebenarnya pada saat acara GOTH, aku menjadi ketua seksi keamanan atas permintaan sang ketua pelaksana, Atria. Awalnya aku tidak mau terlibat acara ini karena memang malas. Tapi melihat kepanitaan yang sedikit berantakan dan sepertinya kekurangan tenaga, aku memutuskan untuk membantunya. Ini juga gara-gara Fajar yang sebelumnya sudah ditunjuk menjadi ketua seksi kemanan, enggan mengemban tugasnya dan mengundurkan diri.

Di acara inilah aku pertama kalinya bekerja sama dengan OSIS yang kebetulan adik kelasku. Tugasku sebagai ketua adalah menjaga kelangsungan dan ketertiban acara. Sebuah tanggung jawab yang besar mengingat keamanan dan kenyamanan saat acara berlangsung adalah hal yang penting. Aku masih ingat bagaimana aku harus berkonsultasi dengan guru, berdiskusi dengan sesama panitia dan OSIS. Aku masih ingat betul saat berkonsultasi dengan April Sensei, guru bahasa Jepang, yang begitu khawatir dan cemas berlebihan dan saat mengatur seluruh anggota OSIS untuk rapat penjelasan pengamanan saat acara berlangsung. Karena takut personel keamanan kurang, aku meminta bantuan pada teman-temanku, Davin, Dimas, Anto, dan Eris. Alhamdulillah, acaranya berlangsung lancar dan tertib, meskipun tata panggung dan dekorasinya menurutku standar.

Sebenarnya tiket ini bukan punyaku, tetapi aku membelikannya untuk Wulan (kalau tidak salah) yang minta titip tiket padaku. Akhirnya tiket itu tidak diambil dan aku simpan sampai sekarang.

Tiket Oxxygen: Being Twenty Yelling Go Green

Inilah bazar SMA Negeri 20 Bandung yang diadakan pada 1 Mei 2010. Setelah tiga tahun vakum, akhirnya bazar berhasil diadakan kembali. Tidak seperti acara bazar yang biasanya, kali ini acara hanya boleh berlangsung sampai jam 6 sore. Pada acara ini, aku 100% menjadi penonton dan penikmat. Meskipun mengusung tema Go Green, tidak ada ciri khas yang menunjukkan kalau acara ini mengusung tema tersebut. Tapi saat konvoi promosi bazar, panitia memilih menggunakan sepeda dan delman sebagai kendaraannya.

Penampilan band yang menurutku mantap dan unik adalah The Trees & The Wild yang mampu membuat hening para penonton dengan aliran musiknya, Gorilla Trampoline yang tampil energik dengan membawa sesisir pisang sebagai aksesoris panggung, Freya yang tampil jazzy, Rames yang membawa ulang lagu Fall Out Boy-Sugar, We're Going Down dan Lady Gaga-Bad Romance dengan tarikan suara yang mantap (aku tidak akan lupa kepada dua personel mereka yang memakai kostum dan beraksi teatrikal), dan tentunya RAN!

Euforia semakin hebat tatkala puncak acara itu tiba, saat RAN tampil. Orang-orang di sekitarku, terutama wanita, tak henti-hentinya meneriakkan nama-nama personel RAN, "Kyaa, Rayiiiii, Astaaaa, Ninoooo!!". Haah, inilah saatnya wanita beraksi setelah pada penampilan band-band sebelumnya laki-laki mendominasi panggung dengan beringas. Mereka tampak sangat bersemangat dan bertenanga menyanyikan lagu RAN. Aku sangat suka saat RAN menyanyikan lagu favoritku, Pandangan Pertama. Ah, RAN benar-benar easy listening dan mengajak kepada pendengarnya untuk menyelami dunia cinta dengan cara yang menyenangkan.

Aku sendiri membeli tiket ini dari Pede (sekarang kelas XII IPA 2) dan temannya saat pre-sale. Oleh karena itu aku berhasil mendapatkan tiket dengan harga yang cukup terjangkau. Bukan Rp30.000 seperti yang tercantum di poster-poster dan spanduk. Untuk ulasan lebih lengkap, lihat liputannya di photography session #23 'OXXYGEN: Being on Twenty Yelling Go Green!'.

Tiket BSM XXI: Toy Story 3

Inilah acara nonton yang sempat membuatku sangat kesal dan jengkel. Awalnya aku membayangkan teman-temanku akan nonton bersamaku, eh, ternyata hanya aku saja yang datang! Aku pernah menceritakan ini di blog-ku yang satu lagi, http://myscraptbookstory.tumblr.com

buka link ini untuk ceritanya: Alone Without Friends! (DAMN -__-)

Tiket Blitzmegaplex: Rumah Dara

Aku merasa sangat beruntung mendapatkan tiket premiere film Rumah Dara, sebuah film dengan genre
slasher dan bloody. Apalagi nonton secara gratis, di Blitzmegaplex PVJ, dan setelah nonton langsung jumpa artis! Hehe. Inilah pertama kaliny aku menonton di Blitz. Tapi, semua ini tidak datang begitu saja, tapi ada ceritanya sampai aku berhasil mendapatkan tiket gratis itu.

Beberapa minggu sebelum premiere film ini, temanku, Haryo, menawariku untuk mengikuti undian tiket nonton gratis dan premiere film Rumah Dara yang diadakan oleh situs Kaskus. 100 orang beruntung dari Bandung akan mendapatkan tiket ini. Sepertinya dia juga mengajak beberapa orang lain untuk ikut undian ini, begitupun dia ikut undian tersebut. Awalnya aku ragu untuk ikut undian ini karena merasa ragu dan pesimis bisa mendapatkan tiket itu. Eh, ternyata aku berhasil mendapatkan tiketnya bersama Dirga, temanku yang lain. Sayangnya, Haryo yang sudah mengajak justru tidak dapat.

Film garapan The Mo (baca: Ti Mo) Brothers ini ternyata menarik dan menegangkan, meskipun menurutku ada beberapa akting yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Inilah film slasher pertama Indonesia yang pertama kali kutonton. Setelah menonton diadakan jumpa artis dan sutradara. Aku dan Dirga langsung bergegas mencari posisi yang strategis. Untunglah kami mendapatkan tempat duduk paling depan. Akhirnya kami bertemu dengan Julie Estelle, Shareefa Daanish, Arifin Putra, Ario Bayu, Imelda Therinne, dan The Mo Brothers. Lumayan, kami berfoto-foto dengan mereka, minta tanda tangan, dan minta poster filmnya. Hanya satu yang disayangkan, kami tidak mendapatkan tanda tangan Julie Estelle dan kaosnya. Aaah!

Aku pernah mengunggah foto-fotonya di blog-ku yang satu lagi, Tumblr. Coba dicek saja untuk melihatnya :) http://myscraptbookstory.tumblr.com/post/350333216/pada-hari-jumat-22-januari-2010-akhirnya-aku

Tiket Symphonesia-Symphonizing The ASEAN

Ini dia acara paling mantap yang pernah aku ikuti! Acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa (HIMA) Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini benar-benar menarik dan membuatku semakin ingin masuk Jurusan Hubungan Internasional. Acaranya ada pergelaran kebudayaan dari masing-masing negara anggota ASEAN, perkusi etnik, penampilan dari grup musik seperti Angsa dan Serigala, Endah n Rhesa, Efek Rumah Kaca, The SIGIT, Maliq&D' Essentials, dan Glenn Fredly. Mereka semua sangat berkualitas! Mungkin karena itulah tiket Symphonesia ini cukup mahal.

Acara ini diadakan pada hari Minggu, 8 November 2009. Aku datang sejak mulainya acara sampai The SIGIT tampil. Banyak juga temanku yang menonton acara itu. Ada Kania, Amy, Retno, Putri, Adi, Widi, dan Tria. Ada kesan khusus yang ingin aku ceritakan di sini, sebuah kesan yang memiliki pesan moral.

Waktu semakin malam. Kira-kira sudah hampir jam 8 malam dan saat itu The SIGIT sedang tampil. Aku masih ingin terus menonton sampai beres, tapi aku harus segera pulang ke rumah karena besok adalah hari sekolah. Selain itu, aku juga ingat kalau besok aku harus menjadi pemimpin upacara. Kemudian aku berpamitan ke Retno yang duduk di dekatku. Lalu, akupun pulang. Besoknya, pada pagi hari aku mendapati diriku tergeletak di tengah jalan dengan keadaan setengah sadar. Setelah kesadaranku pulih, mulutku sudah penuh darah, tiga gigi atasku lepas seperti mulut habis dihantam besi, tangan kiriku tak bisa digerakkan, dan kaki kiriku sangat sakit. Ah, ternyata aku mengalami kecelakaan motor yang cukup hebat. Kalau mau tahu detilnya, coba buka posting aku ini: 9 November 2009-'Terima Kasih Semuanya :)'

Angsa dan Serigala-LOVE AT FIRST LISTENING!

Endah N Rhesa-Pasangan musisi yang romantis banget!

Efek Rumah Kaca-Adrian Yunan Faisal (Bassis-Back Vocal)

Efek Rumah Kaca-Lagu yang sarat dengan pesan moral dan sosial

The SIGIT-Let's Rock The Show!

Setiap tiket tersebut memiliki kisahnya tersendiri dan tak bisa aku lupakan. Aku ingin terus mengingat setiap jejak langkah yang pernah aku jejaki di masa lalu..

Ticket: photo taken by me at my room, Wednesday, August 4, 2010
Symphonesia: phtoto taken by me at Sasana Budaya Ganesham Sunday, November 8, 2009

Halo, Agustus!

Akhirnya tiba juga bulan Agustus. Setelah kurang lebih tiga bulan menganggur, dua minggu lagi mulai disibukkan dengan urusan dunia perkuliahan, sebuah dunia yang baru bagiku. Ada banyak hal yang ingin aku kejar dan kerjakan saat kuliah nanti. Mungkin juga aku lebih jarang menerbitkan tulisan karena kesibukan yang aku alami. Tapi, aku akan menulis jika ada kesempatan dan waktu karena saat kuliah nanti ada banyak hal seru dan menarik yang sayang jika tidak ditulis.

Yah, untuk saat ini aku mempersiapkan diri untuk menghadapi acara kampus yang diadakan mulai tanggal 16 Agustus. Selain itu, aku juga punya proyek menulis catatan backpacking selama satu minggu yang kulakukan bersama empat temanku setahun yang lalu. Rencananya aku ingin menerbitkannya menjadi sebuah buku. Semoga saja keinginan ini tercapai. Oleh karena itu, aku harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

Oh iya, hari ini aku merasa sangat senang. Ternyata membuktikan ucapan sendiri dengan perbuatan itu lebih penting daripada ucapan itu sendiri. Aku berhasil membuktikan ucapanku sendiri! Alhamdulillah, terimakasih ya Allah untuk sedikit kebahagiaan yang Engkau berikan kepadaku hari ini. Kemudian kurang lebih 10 hari lagi kita akan menghadapi bulan suci Ramadhan. Wah, tidak terasa ya? Ternyata Agustus ada cukup banyak kegiatan, mulai dari acara universitas, fakultas, dan jurusan sampai puasa. Ayo, dengan semangat kemerdekaan, kita hadapi bulan Agustus ini! (Sebentar lagi hari kemerdekaan Indonesia yang ke-65! Wah, tim Paskibraka yang bertugas di Istana Negara harus lebih bekerja keras dan menjaga kesehatan fisik-mentalnya)

photography session #24 'Together With Innocent Children'

Keceriaan anak-anak yang polos adalah salah satu objek yang sangat aku impikan untuk dipotret sejak dulu, bahkan sejak SMP. Akhirnya keinginan itu tercapai juga saat acara Prospek Angkatan 8 SMP Salman Al-Farisi, 10-17 Juni 2007. Sudah lumayan lama juga acaranya, sekitar tiga tahun yang lalu dan dilakukan pada saat transisi dari SMP menuju SMA. Prospek adalah singkatan dari Program Sepekan Pengabdian kepada Masyarakat. Semacam KKN (Kuliah Kerja Nyata) begitu.

Ada memori yang tak terlupakan tentang kamera yang aku pakai untuk memotret foto-foto di bawah ini. Foto-foto di bawah ini sebenarnya menggunakan kamera digital milik Agil dan selalu menjadi bahan rebutan antara aku dan Aban untuk menggunakannya. Sementara itu, Agil sendiri dengan berbaik hati dan ikhlas meminjamkan kameranya pada temannya yang seenaknya menggunakan barang orang lain, haha. Alhasil, hanya aku dan Aban yang bergantian memakainya. Maaf ya Gil, waktu itu aku ingin sekali memakai kamera. Aku ingat resolusi kameranya masih 3,2 megapixel. Seperti kamera HP standar zaman sekarang, tapi aku merasa senang menggunakannya. Sebenarnya aku ingin menggunakan kamera digital punya bapak, tapi dilarang oleh orangtuaku.

Oh iya, hampir lupa, lokasi pemotretan foto ini berada di Desa Rawasari, Cianjur.

Sebenarnya timing penekanan tombol dengan posenya kurang tepat. Mereka sudah bergerak untuk bubar sebelum aku menekan tombol untuk memotret. Meskipun begitu dapat juga ekspresi mereka. Kalau mau tahu mana yang bernama Agil, dia memakai baju berwarna biru dengan ekspresi yang terlihat nelangsa. Lokasi fotonya adalah di belakang SD Rawasari dan bekas kelas yang sudah diruntuhkan. Anak-anak ini yang menunjukkan lokasinya.

Aku tak menyangka mereka begitu antusias untuk difoto, haha :))

Anak-anak Indonesia harapan bangsa, sehat, kuat, dan beriman

Di depan ruang kepala sekolah

Sore hari di SD Rawasari. Sepertinya mereka bermain bersama teman sebayanya. Suasana desa yang hubungan masyarakatnya masih gemeinshaft (paguyuban) adalah sesuatu yang telah hilang dari masyarakat metropolitan.

Berangkat ke sekolah

Keceriaan anak-anak setelah mengikuti lomba. Itu di belakang ada Idang dan Adhan.

Ini adalah salah satu foto yang aku sukai. Inilah foto yang menurutku ekspresinya paling polos dari anak kecil. Jangan biarkan masa kecilnya dan masa depannya hancur. Biarkan dia berkembang dengan kepolosan dan cita-citanya :)

Terimakasih untuk seminggu yang telah kita lalui bersama saat prospek. Ada banyak kenangan dan pelajaran yang aku peroleh dari kegiatan yang sangat bermanfaat ini.

photo taken by me at Desa Rawasari, Cianjur, June 10-17, 2007

photography session #23 'quote in yearbook'

A goodbye isn't painful unless you're never going to say hello again

Perpisahan tidaklah menyakitkan kecuali jika kamu tidak akan pernah menyapa lagi. Ya, kurang lebih itulah arti dari kalimat tersebut, sebuah kalimat penututp yang terdapat di halaman terakhir buklet angkatan 2010 SMA Negeri 20 Bandung. Setelah di halaman-halaman sebelumnya disuguhi dengan profil sekolah, kelas beserta kenangannya, dan ekskul, kalimat penutup di halaman terakhir ini cukup menghibur dan mengobati rasa sedih dan rindu karena berpisah dengan teman-teman yang sudah berbagi suka dan duka selama tiga tahun. Kalimat penutup ini memberikan keyakinan kepada kita bahwa suatu hari nanti, kita masih bertemu lagi selama masih hidup, kecuali jika kita memutuskan untuk melupakan mereka. Untungnya di era teknologi informasi ini ada banyak media yang bisa kita pergunakan untuk berkomunikasi: HP, Twitter, Facebook, blog, web cam, dan lain-lain. Jadi, kita tidak akan putus kontak dengan teman-teman lama kita.

Foto ini aku potret di dalam kamar pada malam hari saat sebelum tidur. Aku matikan lampu kamar dan efek cahaya ini aku buat dengan senter penerang yang ada di HP aku. Setelah beberapa kali dipotret, barulah aku pilih hasil terbaiknya. Maklum, foto dengan penerangan kurang membuat foto menjadi blur. Kemudian aku sunting beberapa bagian dari foto ini dan jadilah seperti foto yang sekarang.

photo taken by me at my bedroom, Tuesday, July 27, 2010

Saint Loco–Santai Saja

Mungkin kau kecewa
Semua datang yang tak kau minta
Namun ini semua kenyataan kita

Rap:
Waktu kita lelah dalam menjalani
Semua macam kisah dalam hidup ini
Kadang kita lemah hanya mampu untuk pasrah
Saat kenyataan gak sejalan dengan harapan
Saat keyakinan hilang dalam kepahitan
Tetaplah tabah setidaknya kau mencoba
Menjadi lebih baik dalam jalani hidup ini
Janganlah resah tiada waktu menjawabnya

Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Reff:
Santai saja kawan
Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu
Kau pasti bisa
Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru
Tenang saja kawan
Hadapilah semua

Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Back to Reff: